Padang

Sepuluh Ribu Bibit Kaliandra dari PT Semen Padang Perkuat Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumbar

6
×

Sepuluh Ribu Bibit Kaliandra dari PT Semen Padang Perkuat Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumbar

Sebarkan artikel ini

Rangkiangsumbar- Upaya pemulihan ekologi pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat pada akhir November hingga awal Desember 2025 terus dilakukan. Salah satunya melalui peluncuran Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat yang digagas Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan PT Semen Padang.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan sebanyak 10 ribu bibit kaliandra dari PT Semen Padang. Peluncuran gerakan penghijauan ini dipusatkan di kawasan Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Kamis (22/1/2026).
Kegiatan ditandai dengan penyerahan bibit kaliandra oleh Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, kepada Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra. Acara ini turut disaksikan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion, serta Penjabat Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa.

Turut hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat Tasliatul Fuadi, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani, serta sejumlah komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan pelajar. Usai penyerahan bibit, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar lokasi acara.

Iskandar Z. Lubis menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera yang dinilai mampu membangun kolaborasi lintas unsur dalam upaya penghijauan.

“Kami mengapresiasi Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera yang mampu mensinergikan berbagai unsur untuk peduli terhadap bumi. Penghijauan merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Iskandar.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah juga mengapresiasi pelaksanaan Gerakan Sejuta Pohon sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pascabencana.

Menurutnya, dukungan PT Semen Padang melalui bantuan 10 ribu bibit kaliandra semakin memperkuat gerakan tersebut, mengingat kaliandra memiliki banyak manfaat, termasuk potensi sebagai tanaman energi.

Mahyeldi berharap gerakan ini dapat berlanjut dan berkembang menjadi gerakan masif di seluruh wilayah Sumatera Barat. Ia juga mengusulkan kebijakan penghijauan berbasis keagamaan, seperti wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin.

“Misalnya, wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin yang akan menikah. Hal ini akan kami koordinasikan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Kita harapkan kebijakan ini dapat terwujud,” katanya.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kolaborasi lintas sektor dalam gerakan tersebut. Menurutnya, penghijauan, terutama di hulu sungai dan kawasan hutan, menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

“Bencana hidrometeorologi sangat erat kaitannya dengan air dan kondisi lingkungan. Penghijauan di hulu sungai dan kawasan hutan menjadi kunci untuk menekan risiko bencana,” ujar Raju.

Ia menambahkan, pascabencana banjir dan longsor, Kota Padang juga menghadapi dampak lanjutan berupa kekeringan. Perubahan aliran sungai menyebabkan jaringan irigasi terputus, rusaknya sungai-sungai kecil, serta terganggunya pasokan air bersih.

“Data kami mencatat sekitar 121 titik di Kota Padang mengalami kekeringan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra, menjelaskan bahwa gerakan ini dilatarbelakangi oleh bencana ekologis yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Menurutnya, Sumatera Barat membutuhkan langkah pemulihan yang kolaboratif dan berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek.

“Hari ini kita membutuhkan solusi nyata atas bencana ekologis di Sumatera Barat. Karena itu, kami mendorong keterlibatan semua pihak—pemerintah, BUMN, swasta, LSM, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat—untuk bergerak bersama. Target awal kami adalah penanaman satu juta pohon, dan jumlah tersebut dapat terus bertambah sesuai partisipasi publik,” kata Febriyandi.

Ia menambahkan, pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga tanaman produktif yang memiliki nilai ekonomi. Jenis yang diprioritaskan antara lain durian, petai, jengkol, serta kaliandra yang disuplai oleh PT Semen Padang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Padang dan seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan ini,” ujarnya.

Febriyandi menyebutkan, gerakan ini melibatkan sekitar 20 pihak kolaborator. Di tingkat provinsi, target penanaman mencapai satu juta pohon. Khusus di Kota Padang, target penanaman sebanyak 10 ribu pohon yang dibagi ke dalam lima segmen wilayah, meliputi Balai Gadang, Batu Busuk, dan Batang Gabung.

“Gerakan ini kami awali dari Kota Padang dengan penanaman secara bertahap dan estafet. Penanaman dilakukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir Pantai Padang,” jelasnya.

Ia menegaskan, Gerakan Sejuta Pohon bukan sekadar agenda seremonial, melainkan diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan publik agar aktivitas menanam pohon menjadi bagian dari budaya dan kewajiban sosial masyarakat.

“Kami berharap gerakan ini tidak berhenti pada euforia sesaat. Menanam pohon harus menjadi budaya. Sumatera Barat memiliki potensi bencana yang besar, mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Tidak ada wilayah yang benar-benar aman jika lingkungan tidak dijaga,” pungkas Febriyandi (*)