Padang

Sehari Jelang Muscab, Calon Ketua DPC Peradi SAI Padang Martry Gilang Rosadi Menggelar Doa Bersama Dengan Ratusan Pendukung

50
×

Sehari Jelang Muscab, Calon Ketua DPC Peradi SAI Padang Martry Gilang Rosadi Menggelar Doa Bersama Dengan Ratusan Pendukung

Sebarkan artikel ini

Rangkiangsumbar – Di bawah langit senja Bukit Gado-Gado, ketika Kota Padang mulai meredup dan angin laut berembus pelan dari arah pantai, ratusan advokat duduk bersila dalam diam. Tak ada sorak, tak ada tepuk tangan. Yang terdengar hanya lantunan doa, lirih namun penuh harap.

Sehari menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) DPC Peradi SAI Padang, Jumat (23/1), salah satu calon Ketua DPC Peradi SAI Padang Martry Gilang Rosadi memilih jalan sunyi. Bukan kampanye gegap gempita, melainkan doa bersama—sebuah ikhtiar batin yang digelar sederhana di Posko Pemenangannya, tak jauh dari Orindji Coffee, Jalan Siti Nurbaya.

Sore itu, ratusan advokat datang. Mereka hadir dari berbagai penjuru: Kota Padang, luar daerah, bahkan luar provinsi. Wajah-wajah lelah tampak menyatu dalam satu tujuan. Duduk berimpitan, menundukkan kepala, mereka mengangkat tangan—menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.

Martry Gilang Rosadi tak berdiri di depan. Ia duduk bersama mereka, sejajar. Tak ada jarak antara calon ketua dan para pendukungnya. Dalam keheningan itu, doa dipanjatkan: agar Muscab DPC Peradi SAI Padang yang akan digelar Sabtu (24/1) di salah satu hotel berbintang dapat berlangsung aman, tertib, dan sejuk.

“Ini bukan sekadar menjelang Muscab,” ucap Martry pelan usai doa bersama. “Ini tentang silaturahmi, tentang menjaga marwah Peradi SAI.”

Kata-kata itu meluncur tanpa nada ambisi. Lebih terdengar sebagai pengakuan seorang advokat kepada sesama advokat—bahwa organisasi ini lebih besar dari kepentingan siapa pun.

Dalam doa yang dipanjatkan, terselip harapan agar perbedaan tak melahirkan luka. Agar Muscab tak menjadi arena perpecahan, melainkan ruang pemersatu. “Kita satu suara, satu tujuan: Peradi SAI,” ujarnya, lirih namun tegas.

Malam semakin larut. Namun kehangatan justru terasa. Di antara doa dan keheningan, Martry menyampaikan secuil mimpi—tentang Koperasi Advokat Minang yang kelak diharapkan mampu menopang kesejahteraan anggota. Tentang gedung sekretariat yang lebih layak, lebih sejuk, dan lebih manusiawi, sebagai rumah bersama para pencari keadilan.

Tak ada janji muluk. Hanya niat yang dititipkan lewat doa.

Ketika acara usai, satu per satu advokat berdiri. Beberapa saling berpelukan. Beberapa terdiam, matanya berkaca-kaca. Senja di Bukit Gado-Gado menjadi saksi: bahwa sebelum suara dihitung, ada doa yang lebih dulu dipanjatkan demi organisasi, demi kebersamaan, demi marwah yang tak boleh runtuh.
Dan di sanalah, dalam sunyi dan harap, perjuangan itu dimulai (*)