Rangkiangsumbar – Keputusan strategis tidak selalu lahir dari ruang rapat resmi. Di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat, arah baru pembenahan olahraga justru dirumuskan di sebuah kedai kopi kecil di depan GOR Beladiri, Kompleks GOR Haji Agus Salim, Padang Kamis (22/1)
Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menggelar diskusi mendadak bersama sejumlah pengurus sesaat setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gedung Beladiri. Tanpa formalitas berlebihan, para pengurus duduk sejajar, berdiskusi terbuka, dan langsung membahas pokok persoalan.
“Hari ini kita tidak bicara seremoni. Kita bicara bagaimana fasilitas olahraga yang sudah dibangun dengan anggaran besar ini benar-benar memberi manfaat maksimal bagi atlet,” ujar Hamdanus.
Sidak tersebut membuka sejumlah persoalan mendasar, mulai dari perawatan peralatan latihan hingga tata kelola gedung olahraga yang dinilai belum sepenuhnya jelas. Bagi KONI Sumbar, fasilitas bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama pembinaan prestasi.
“Kalau manajemennya bagus, tetapi asetnya diabaikan, hasilnya tidak akan maksimal,” tegas Hamdanus.
Isu krusial lainnya adalah kepastian kewenangan pengelolaan sport hall di Kompleks GOR Haji Agus Salim yang dinilai masih abu-abu. Kejelasan peran antara KONI Sumbar dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar dinilai penting agar pengelolaan berjalan efektif, berkelanjutan, dan akuntabel.
Dari diskusi sederhana tersebut, lahir kesepakatan konkret. KONI Sumbar akan membentuk tim pengelola Gedung Beladiri yang melibatkan wakil ketua umum lintas bidang, unsur kelembagaan, sarana dan prasarana, hingga sponsor, serta berkoordinasi langsung dengan Dispora Sumbar.
Bidang Sarana dan Prasarana juga memaparkan langkah nyata. Mereka telah menyusun buku identifikasi yang memuat data perangkat keras dan perangkat lunak, kondisi bangunan, serta sarana pendukung di Gedung Beladiri dan gedung serbaguna. Data tersebut akan menjadi dasar pengambilan kebijakan berbasis fakta.
“Kita ingin semua bergerak dengan data, bukan asumsi,” kata Hamdanus.
Lebih jauh, KONI Sumbar mendorong pola pikir baru. Gedung olahraga tidak hanya difungsikan sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai aset produktif. Dengan pengelolaan profesional serta kolaborasi bersama sponsor dan mitra strategis, fasilitas tersebut diharapkan mampu menopang biaya perawatan dan pembinaan atlet.
Yang paling terasa dari pertemuan itu adalah kekompakan. Tanpa sekat jabatan, para pengurus duduk setara, saling melengkapi pandangan, dan menyatukan visi.
Dari sebuah kedai kopi di Padang, KONI Sumbar mengirimkan pesan sederhana namun kuat bagi dunia olahraga. Prestasi lahir dari keberanian membenahi tata kelola, kesediaan berkolaborasi, dan komitmen menjaga aset bersama. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi fondasi besar dalam membangun olahraga Indonesia.
(*)






