Rangkiangsumbar – Pagi itu, suasana Nagari Sariak, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat, seharusnya berjalan seperti biasa. Udara masih sejuk ketika warga mulai beraktivitas.
Namun ketenangan itu mendadak pecah oleh teriakan minta tolong yang terdengar dari salah satu sudut kampung, Jumat (16/1).
Di tengah jalan, seorang pemuda terlihat tergeletak. Tubuhnya lemah, darah mengalir dari luka yang belum diketahui asalnya. Wajahnya pucat, napasnya terengah, seolah berjuang melawan rasa sakit yang hebat.
Beberapa saat sebelumnya, kawasan itu diduga menjadi lokasi tawuran antar dua kelompok pemuda.
Keributan terjadi cepat, tanpa peringatan, dan memancing kepanikan warga sekitar.
Riki, salah seorang warga, mengaku melihat langsung situasi mencekam tersebut. Ia mengatakan tawuran itu berlangsung singkat, namun meninggalkan dampak yang serius.
“Memang ada tawuran antar dua kelompok di kawasan ini. Tiba-tiba ada satu pemuda terkapar tidak berdaya dengan mengeluarkan darah,” ujar Riki dengan nada prihatin.
Dalam kondisi terluka, pemuda itu masih sempat meminta pertolongan. Suaranya memanggil warga menjadi satu-satunya harapan di tengah situasi yang genting.
Mendengar teriakan itu, warga pun berhamburan keluar rumah. Kehadiran warga membuat dua kelompok yang diduga terlibat tawuran langsung melarikan diri, meninggalkan korban dan jejak kekerasan di lokasi kejadian.
Hingga pagi beranjak siang, peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan warga Nagari Sariak. Identitas korban dan penyebab pasti tawuran belum diketahui, namun kejadian itu menjadi pengingat bahwa konflik sesaat dapat meninggalkan luka panjang (*)




