Rangkiangsumbar – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dituntut untuk segera melakukan perubahan menyeluruh. Jika tidak, perusahaan pelat merah itu berisiko tergilas oleh kompetitor, terlebih di tengah transformasi besar yang sedang berlangsung di Indonesia.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam pembekalan, arahan, dan motivasi yang disampaikan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, kepada jajaran pimpinan Semen Indonesia Grup (SIG) dalam kegiatan retret di Akademi Militer (Akmil), kaki Gunung Tidar, Magelang, Selasa (13/1) malam.
Retret yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan itu diikuti oleh 163 peserta dari jajaran manajemen SIG. Dalam paparan selama kurang lebih dua jam, Dony Oskaria menekankan pentingnya transformasi berkelanjutan bagi BUMN.
“Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri,” ujar Dony, mengutip filsuf Yunani Kuno asal Asia Kecil, Heraclitus.
Dony kemudian memaparkan tiga langkah besar transformasi yang tengah dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pertama, ketahanan pangan.
Menurutnya, Indonesia kini kembali menuju swasembada, didukung harga pupuk yang terjangkau serta program pencetakan sawah baru.
Kedua, ketahanan energi, yakni memastikan ketersediaan energi dalam negeri sehingga tidak lagi bergantung pada impor.
Ketiga, ketahanan sumber daya manusia (SDM), yang mencakup penduduk sehat dan pendidikan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Jawaban awalnya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan massal, serta penciptaan lapangan kerja,” kata Dony.
Tantangan Semen Indonesia
Terkait Semen Indonesia, Dony menegaskan bahwa pola pertumbuhan ekonomi yang terlalu
“lancip” di masa lalu tidak boleh terulang kembali.
“Jika dulu pertumbuhan ekonomi terlalu lancip, maka sekarang sama sekali tidak boleh lagi,” ujarnya.
Ia menilai Semen Indonesia memiliki peluang untuk menjadi jauh lebih baik apabila berani melakukan perubahan mendasar. Berdasarkan temuan dan analisis Danantara, persoalan utama di banyak BUMN bukan terletak pada karyawan, melainkan pada kepemimpinan.
“Persoalan pada hampir semua BUMN bukan karena karyawan. Pelakunya adalah pimpinan BUMN,” tegas Dony.
Ia bahkan menyinggung sejumlah kasus BUMN besar yang sebelumnya sehat, namun perlahan mengalami kemunduran hingga akhirnya kolaps.
Menurutnya, Semen Indonesia harus dijalankan sesuai dengan norma dan tata kelola yang benar, tanpa perlu memoles laporan keuangan.
Dalam konsep manajemen modern, Dony menekankan peran sentral seorang CEO.
Seorang CEO harus mampu menjelaskan dengan jelas arah perusahaan, memahami posisi perusahaan saat ini, serta menentukan langkah strategis menuju tujuan tanpa selalu bergantung pada konsultan.
“CEO harus punya visi dan tahu perusahaan akan dibawa ke mana,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa banyak persoalan muncul ketika pimpinan BUMN terlalu jauh dari lapangan.
“Jika direktur utama hanya nyaman di kantor dan menikmati fasilitas, maka perusahaan itu pasti bermasalah,” ujarnya.
Dony menegaskan, CEO harus membangun visi yang tajam, mengomunikasikannya kepada seluruh karyawan, serta secara konsisten mengawal visi tersebut dengan lebih sering turun ke lapangan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Indrieffouny Indra, menyatakan paparan COO Danantara tersebut akan dijadikan CEO Notes dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
“Terutama dalam menjaga dan mempertahankan pasar yang ada saat ini, yang menjadi sangat penting,” ujarnya (*)





