Sumbar

Saat Negara Hadir: Polri Menyulam Harapan Pascabencana di Sumatera Barat

8
×

Saat Negara Hadir: Polri Menyulam Harapan Pascabencana di Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini

Rangkiangsumbar – Langit Sumatera Barat pagi itu seolah menjadi saksi kehadiran negara di tengah warga yang masih berjuang memulihkan diri dari bencana. Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, menjejakkan kaki di Polda Sumbar, Minggu (28/12), membawa pesan kepedulian sekaligus harapan bagi masyarakat terdampak.

Kunjungan kerja Wakapolri bukan sekadar agenda seremonial. Di baliknya, tersimpan upaya serius memastikan logistik, sarana, dan prasarana pemulihan pascabencana benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan. Dari halaman Polda Sumbar, ribuan paket bantuan Polri dilepas, bergerak menuju wilayah terdampak dengan fokus utama di Kabupaten Padang Pariaman.

Didampingi Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol. Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, serta jajaran pejabat utama Polda Sumbar, Wakapolri memantau langsung kesiapan personel dan distribusi bantuan. Kehadiran para pimpinan ini menegaskan bahwa pemulihan Sumatera Barat menjadi perhatian bersama, dari pusat hingga daerah.

Salah satu fokus utama pemulihan adalah akses penghubung antarwilayah. Sejumlah jembatan darurat kini mulai berdiri, menghubungkan kembali daerah yang sempat terisolasi. Di Palembayan dan Sumani, jembatan darurat telah rampung sepenuhnya. Sementara di Malalak dan Batang Anai, pengerjaan terus dikebut agar segera bisa dimanfaatkan masyarakat.

Baca Juga  APVA Indonesia Bantu Korban Bencana

Namun, tantangan masih terasa di Jembatan Salareh Aia, Kabupaten Agam. Jembatan ini menjadi urat nadi bagi ratusan kepala keluarga, meski saat ini hanya mampu dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Harapan pun muncul agar jembatan tersebut ditingkatkan menjadi jembatan Bailey, sehingga kendaraan roda empat dan roda enam dapat melintas, membuka kembali akses pendidikan dan ekonomi warga.

Di tengah puing-puing dan lumpur sisa bencana, alat berat menjadi pemandangan yang menenangkan. Sebanyak 11 unit alat berat disiagakan Polri, bekerja tanpa henti membersihkan material dan membuka jalur yang tertutup.

Mesin-mesin itu seolah menjadi simbol kerja keras dan gotong royong untuk memulihkan kehidupan masyarakat.

Air bersih, kebutuhan paling mendasar, juga menjadi prioritas. Ratusan sumur bor dibangun, toren air dipasang, dan mobil tangki dikerahkan menyusuri daerah terdampak.

Upaya ini memastikan warga tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan.

Baca Juga  Satlantas Polres Padang Pariaman Gelar Program “Polantas Menyapa” di Batang Anai

Tak hanya pangan dan air bersih, bantuan sandang, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan kesehatan turut disalurkan. Selimut, sarung, handuk, hingga perlengkapan bayi dan kebutuhan perempuan menjadi bagian dari kepedulian Polri terhadap kelompok rentan pascabencana.

Harapan baru juga tumbuh melalui pembangunan hunian sementara. Di Kapalo Koto, Anduriang, dan Limau Hantu, ratusan unit huntara direncanakan berdiri sebagai tempat berlindung sementara, sambil menunggu rumah permanen kembali dibangun.

Di balik angka dan tonase bantuan, ada perhatian pada masa depan anak-anak Sumatera Barat. Tas, seragam sekolah, sepatu, hingga kegiatan trauma healing diberikan untuk memulihkan semangat dan senyum mereka. Sebab, pemulihan sejati bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyembuhkan luka batin.

Dengan melibatkan ratusan personel dan puluhan kendaraan, total sekitar 50 ton bantuan bergerak menyapa warga terdampak. Bantuan itu bukan sekadar barang, melainkan pesan bahwa negara hadir, bergandengan tangan bersama masyarakat, menyalakan kembali asa untuk bangkit dan melangkah ke hari esok yang lebih baik (*)